Pembangunan Jembatan Darurat di Waikaka Bagi Hilangkan Pungli

 

Berita Ambon  – Rencana pemerintah membina jembatan terpaksa jenis Bally di Waikaka, Desa Tala, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat diinginkan dapat menghilangkan praktik pungutan binal terhadap semua supir mobil truk dan angkutan lintas Pulau Seram.

“Jembatan terpaksa sepanjang 60 meter ini bakal segera dibangun sebab pemerintah pusat melewati Kementerian PUPR sudah menyetujui perkiraan yang diusulkan,” kata Sekretaris komisi C DPRD Maluku, Roby Gazpers, Rabu.

Persetujuan pemerintah membina jembatan terpaksa ini diketahui ketika komisi C melangsungkan rapat kerja dengan Dinas Perhubungan Maluku, Balai Transportasi Darat, Dinas PUPR Maluku serta puluhan supir lintas Pulau Ambon dan Pulau Seram.

Berdasarkan keterangan dari Roby, Jembatan Waikaka di Pulau Seram merasakan kemiringan dampak tiang pengampu tengah jembatan ambruk semenjak 6 Juni 2019 lalu diakibatkan luapan banjir sungai Waikaka yang menyatu dengan sungai Waitala.

Rusaknya jembatan Waikaka ketika ini tidak bisa diperbaiki, tetapi untuk sedangkan waktu diperlukan sebuah jembatan darurat.

Kemudian dua aliran sungai yang menyatu ketika ini mesti dipecah lagi supaya sebagian air mengalir melalui jembatan Tala, baru dapat dibangun jembatan Waikaka yang baru secara permanen.

DPRD pun mengaku sudah memahami adanya aksi pungli oleh oknum-oknum tertentu terhadap semua supir lintas yang seringkali dilakukan tengah malam dengan jumlah dana yang bervariasi.

Ketua komisi C DPRD Maluku, Anos Yermias menuliskan pihaknya mengerjakan koordinasi dengan Dinas Perhubungan dan instansi bersangkutan, termasuk menginginkan Pemkab Seram Bagian Barat yang sekitar ini terkesan ‘tidur’ guna bergerak dan melibatkan aparat kepolisian guna menangani masalah pungli.

“Koordinasi dengan Dishub ini dimaksudkan supaya mengatur jadwal kapal-kapal penyeberangan feri Hunimua Liang (Pulau Ambon) destinasi pelabuhan penyeberangan Inamarina Masohi, Kabupaten Maluku Tengah,” katanya.

Sebab antrean mobil truk maupun bus Ambon destinasi Maluku Tengah atau Kabupaten Seram Bagian Timur antara 3-4 hari dampak KMP Roka Tenda ketika ini sedang docking.

Belum lagi bila BMKG menerbitkan peringatan atau larangan berlayar dampak tinggi gelombang dan angin kencing, maka kapal feri yang beroperasi destinasi Humiua-Inamarina tidak bakal berlayar sampai-sampai terjadi penumpukan penumpang di dua pelabuhan penyeberangan tersebut.

Leave a Comment